REFISI
POLA DAN SISTEM
PENDIDIKAN DI JAWA
MAKALAH
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Islam dan Budaya Jawa
Dosen
Pengampu : DR. Rupi’i Amri., M.ag
![]() |
Disusun oleh :
Muhammad
Rifqi Ihsani (122111138)
FAKULTAS
SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013
I.
PENDAHULUAN
Pendidikan di pualau jawa sudah terjadi sejak sebelum kerajaan hindu
budha berdiri, dimana waktu
zaman Hindu dan Budha tersebut perkembangan pendidikannya melalui penyebaran
agama. Sebelum penjajahan Belanda, bumi Nusantara telah dikenal di dunia
sebagai pusat pendidikan, pengajaran, dan pengembangan ilmu pengetahuan,
khususnya pada masa kerajaan Hindu dan Budha yang dalam perkembangan
selanjutnya pendidikan dipengaruhi oleh ajaran agama Islam. Pada saat agama
islam mulai masuk ke nusantara pendidikannya pun juguga berbau islam dan model
yang di gunakan pun juga berbeda dengan konsep hindu buda. Setelah kedatangan
belanda indonesia mulai terperosok dalam hal pendidikanya dikarenakan belanda yang
menjajah indonesia melakukan diskriminatif kepada masyarakat, yang di
perbolehkan sekolah hanya dari golongan tertentu saja, pendidikan yang di
terapkan berbau komersial.
Sedangkan pada masa walisonggo, mereka mengenalkan sistem pendidikan yang
berbeda dengan yang di gunakan oleh kolonial belanda, dan materi yang di
ajarkan nya juga ber beda jauh.
Dalam kesempatan ini, khususnya di makalah ini akan membehas lebih lanjut
tentang sistem pendidikan di jawa mulai dari masa hindu buda sampai wlisonggo
dan sistem pesantren yang di terapkan oleh mereka.
II.
RUMUSAN
MASALAH
A.
Bagaimana pendidikan
pada masa hindu buda di jawa?
B.
Bagaimana
pendidikan awal islam masuk?
C.
Bagaimana
sistem pendidikan kolonial?
D.
Bagaimana
sistem pondok pesantren?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pendidikan
pada masa hindhu budha
Pada pendidikan masa hindu budha di kenal dengan
istilah karsyan, pendidikan masa hindu budha diawali dari munculnya
kerajaan beberapa kerajaan di abad ke-5 M, antara lain: kerajaan Hindu Buddha
di Kutai [kalimantan]. Di Jawa barat muncul kerajaan
Hindu Taruma negara. Pada masa ini lembaga-lembaga pendidikan telah ada di Indonesia
khususnya di Jawa sejak periode permulaan. Pada masa ini pendidikan melekat dengan
agama.
Pada
masa ini, kaum Brahmana yang menyelenggarakan proses
pendidikan dan pengajaran.
Perlu diketahui sistem kasta tidaklah diterapkan di Indonesia
seperti yang terjadi di India. Adapun materi-materi pelajaran
yang diberikan pada saat itu antara lain: teologi, bahasa dan sastra,
ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu perbintangan, ilmu pasti, perhitungan waktu,
seni bangunan, seni rupa, dan lain-lain. Pola pendidikannya mengambil model
asrama khusus, dengan fasilitas belajar seperti ruangan diskusi dan seminar.
Menjelang periode akhir,
pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosial, tetapi para
guru mengganti tempat belajarnya di
padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi ajar yang
bersifat spiritual religius. Para
murid ini sembari belajar juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.[1]
Sistem pendidikan Hindu Buddha dikenal dengan istilah karsyan. Karsyanadalah tempat
yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang
mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagimenjadi dua bentuk yaitu patapan dan
mandala.
Patapan memiliki tempat bertapa,
tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu
yang ia cita-citakan. Cirikhasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan,
seperti rumah atau pondokan. Bentuk patapan sederhana, seperti gua atau ceruk,
batu-batu besar, atau pun pada bangunan yang bersifat artificial. Hal
ini dikarenakan jumlah resi yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. Tapa
berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang
bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru,
dengan demi kian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.
Kemudian istilah
kedua adalah mandala, atau disebut juga kedewaguruan adalah merupakan
tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau
kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga
pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan
agama dan negara.Mandala tersebut dipimpin oleh dewa guru.[2]
Masuknya Hindu Buddha
juga mempengaruhi kehidupan masyarakat indonesi dalam bidang pendidikan.
Sebab sebelumnya masayarakat Indonesia
khususnya Jawa belum mengenal tulisan. Namun dengan masuknya Hindu Buddha,
sebagian masyarakat Indonesia mulai mengenal budaya baca dan tulis.Ada punbuktinya sebagi berikut:
1. Digunakannya bahasa sansekerta dan huruf pallawa dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa tersebut terutama digunakan di kalangan pendeta dan bangsawan kerajaan.
Telah mulai digunakan bahasa kawi, jawa kuno, dan lain-lain.
2. Telah dikenal sistem pendidikan berasrama
[ashram] dan didirikan sekolah-sekolah khusus untuk mempelajari agama Hindu Buddha.
3. Lahirnya banyak karyasastra
bermutu tinggi yang merupakan interpretasi kisah-kisah dalam budaya Hindu Buddha.
Seperti: Bharatayuda, Arjuna Wiwaha, Smaradhana, Negara kertagama, dan Sutasoma.
4. Berkembangnya ajaran budi pekerti berlandaskan ajaran
agama Hindu Buddha. Pendidikan tersebut menekankan kasih sayang, kedamaian,
dan sikap saling menghargai sesama manusia mulai dikenal dan diamalkan oleh sebagian masyarakat.
B. Pendidikan awal islam masuk
Pendidikan Islam di Indonesia pada masa awalnya bersifat informal, yakni melalui interaksi
inter-personal yang
berlangsung dalam berbagai kesempatan seperti aktivitas perdagangan,
karena lalulintas perdagangan laut internasional yang
melewati wilayah nusantara sudahramai. Dakwah Bil Hal
atau keteladanan pada konteks ini mempunyai pengaruh besar dalam menarik perhatian dan minat seseorang untuk mengkaji atau memelukajaran
Islam. Selanjutnya setelah agama ini berkembang di tiap-tiap desa yang
penduduknya telah menjadi muslim umumnya di dirikan langgar atau masjid.
Fasilitas tersebut bukan hanya sebagai tempat shalat saja, melainkan juga tempat untuk belajar membaca
al qur’an dan ilmu-ilmu keagamaan yang bersifat elemen terlainnya.
Metode pembelajaran yang digunakan adalah seorang murid
secara perorangan atau bergantian belajar kepada guru dan halaqah atau wetonan
(guru mengajar sekelompok murid yang duduk mengitarinya secara kolektif atau
bersama-sama). Mereka yang
berkeinginan melanjutkan pendidikannya setelah memperoleh bekal cukup dari langgar/
masjid di kampungnya, dapat masuk kepondok pesantren. Secara tradisional,
sebuah pesantren identik dengan kyai (guru/ pengasuh), santri(murid), masjid, pemondokan (asrama), dan kitab kuning
[referensi atau diktat ajar]. Sistem pembelajaran relatif serupa dengan sistem di
langgar atau masjid, hanya saja materinya kini kian berbobot dan beragam,
seperti bahasa, dan sastra arab, tafsir, hadits, fiqih, ilmu kalam, tasawuf,
tarikh, dan lainnya.
Ketika era penjajahan dimulai,
pendidikan islam tetap masih dapat berlangsung secara tradisional melalui para guru
agama baik yang berbasis di langgar atau masjid maupun yang berada di
pesantren-pesantren dan madrasah.[3]
C.
Pendidikan masa
kolonial belanda
Pada masa
penjajahan belanda pendidikan yang di berikan oleh belanda masih berbau
komersial, berbeda jauh dengan yang ada di belanda yang di kelola secara bebas
oleh organisasi-organisasikeagamaan, sedangkan
pemerintah kolonial belanda mempunyai ambisi dan strategi
sendiri ketika menerapkan pola pendidikan modern. Pada awalnya, pemerintah
kolonial belanda hanya memberikan model pendidikan pada anak bangsa yang berupa
sekolah ongko loro dan ongko siji. Sekolah ini bertujuan agar anak bangsa
mendapatkan pendidikan satu tahun dan tiga tahun saja, di mana materi yang
diberikan berupa ketrampilan berhitung, membaca, dan menulis sederhana.
Ketrampilan ini jelas dibutuhkan untuk membantu tugas-tugas administrasi
pemerintah kolonial belanda sendiri. Hal ini dilakukan karena di satu sisi
pemerintah belanda ingin mendapatkan tenaga administrasi level bawah yang
bergaji rendah, di sisi lain belanda tidak ingin memberikan sepenuhnya ilmu
pengajaran dan pengetahuan bagi anak bangsa yang status sosialnya dipandang
rendah. Pemerintah Kolonial Belanda memberikan persyaratan bagi siswa yang
masuk di sekolah ongko siji dan loro. Syarat utamanya adalah latar belakang
keningratan bagi siswa-siswanya.
Pada masa ini
pendidikan di indonesia lebih terlihat untuik memperjuangkan hak pendidikan
karena pendidikan masih mebsifat kolonial dan diskriminatif terhadap
masyarakat, kemudian muncul politik etis yang dimotori van Deventer dan Baron
van Hoevel, maka terjadi perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia.
Sistem persekolah dan kurikulum mengalami banyak perubahan, semulanya jenjang
pendidikan hanya 1 tahun sampai 3 tahun menjadi 5 tahun sampai 6 tahun, materi
pengajaran mengalami perubahan yang cukup banyak. Tingkat kesulitan mengalami
peningkatan dan tidak setiap anak bangsa bisa menjadi siswa di sekolah ini.
Kedua sekolah ini tetap mempertahankan sistem lama dalam penerimaan siswa baru.
Mereka yang berasal dari kalangan rakyat biasa tetap tidak diperbolehkan memasuki
jenjang pendidikan HIS. Mereka yang berasal dari kalangan priyayi rendah, tentu
saja harus ngenger dahulu agar dapat diterima menjadi siswa sekolah ini. Bahasa
belanda menjadi bahasa pengantar dalam kegiatan belajar di sekolah ini, selain
itu pihak belanda juga mendirikan mendirikan pula ELS (Eropesch Lagere School) sebagai pembanding, ELS merupakan sekolah dasar
untuk anak-anak eropa dan china lagere School bagi anak-anak keturunan
tionghoa. Sekolah ini jelas bukan milik kaum pribumi yang secara sosial berada
di bawah posisi orang eropa dan china.
Di tingkat
lanjut, pemerintah kolonial belanda mendirikan MULO
yang setingkat SMP jaman sekarang. Kurikulum yang dipergunakan semakin lengkap.
Bahasa belanda tetap menjadi bahasa pengantar. Selain itu diajarkan bahasa perancis
dan inggris. Tidak setiap anak bangsa bisa memperoleh pendidikan tingkat ini.
Banyak kendala rasialis dan sosial yang menghalangi anak bangsa untuk
memperoleh kesempatan ini. Jika dibandingkan jaman sekarang lulusan MULO
sebanding kualitasnya dengan lulusan S-1 sekarang. Bagi lulusan MULO maka ia
berhak mendapatkan tempat pekerjaan di struktur kepegawaian negeri maupun
militer pemerintah kolonial belanda, kemudian pada tingkat tertinggi ada AMS
sekarang dengan sebutan SLTA (Algemens Middlebars School) dan HBS (Hoogere
Bourgere School). Minimal anak bangsawan tinggi yang diperbolehkan memasuki
jenjang sekolah ini. Untuk AMS ditempuh selama 3 (tiga) tahun, sedangkan untuk
HBS ditempuh 5 (lima) tahun. Siswa yang bersekolah di HBS secara sosial ia
adalah pribumi yang sudah disamakan derajatnya dengan bangsa eropa/belanda.
Pada pendidikan tingkat ini, kualitas menjadi sebuah ukuran mutlak. Oleh karena
pola pendidikannya yang disiplin dengan kurikulum yang jelas maka dengan
sendirinya menghasilkan alumni yang disegani oleh siapa saja, beberapa
alumninya antara lain : Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Syafruddin
Prawiranegara, Soetomo, Cipto Mangunkusuma, A. Rivai, Suwardi Suryaningrat, dan
sebagainya.
Dari penjelasan
di atas bahwa betapa sulitnya Betapa sulitnya kaum pribumi untuk menaiki tangga
mobilitas sosial. Hambatan sosial yang berupa latar keningratan dan kebangsawan
menjadi batu sandungan yang berat bagi anak bangsa yang ingin memperbaiki nasib
diri dan bangsa. Bagi mereka yang tak sempat mengenyam bangku AMS dan HBS,
tentu saja lebih memilih memasuki jenjang pendidikan guru yang setingkat dengan
MULO dan AMS sendiri namun dengan kualitas keilmuan dan gengsi di bawahnya.
Menjadi guru toh merupakan jenjang kepriyayian yang dicita-citakan meski berada
pada posisi terbawah model birokrasi Kolonial Belanda.[4]
Menurut S.
Nasution ada ciri-ciri pendidikan pada masa kolonial belanda antara lain :
·
Pertama, gradualism yang luar biasa dalam penyediaan pendidikan
anak-anak hindu.
·
Kedua, dualisme dalam pendidikan dengan menekan
perbedaan yang tajam antara pendidikan belanda dengan pendidikan pribumi.
·
Ketiga, kontrol sosial yang kuat.
·
Keempat, keterbatasan tujuan sekolah pribumi dan peran
sekolah untik menghasilkan pegawai sebagai faktor penting dalam perkembangan
pendidikan.
·
Kelima, adanya
prinsip konkordinasi.
·
Keenam, tidak
adanya perncanaan pendidikan untuk pribumi.[5]
D.
Sistem pondok
pesantren
Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan keagamaan di jawa, tempat
anak-anak muda belajar dan memperoleh pengetahuan keagamaan yang tingkatnya
lebih tinggi. Alasan pokok munculnya pesantren ini adalah untuk mentrasmisikan
islam tradisional, karena disitulah para anak-anak muda akan mengkaji lebih
dalam kitab-kitab klasik berbahasa arab yang ditulis berabad-abad lalu. Di jawa
kitab-kitab ini dikenalsebagai kitab kuning. Jumlah kitab kuning yang di
pelajari di pesantren terbatas jumlahnya(al-kutub al-mu’tabarah). Ilmu yang
bersangkutan dianggap sudah bulat dan tidak bisa ditambah, hanya bisa di
perjelas dan dirumuskan kembali. Ada ahli sejarah yang menganggap bahwa
pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan pra-islam yang di sebut dengan
mandala karena adanya kesamaan dengan mandala.[6]
Sejarah pesantren tidak bisa di pisahkan dari sejarah pengaruh
walisonggo pada abad 15-16 di jawa. Pesantren merupakan lembaga pendidikan
islamyang unik di indonesia lembaga ini telah berkembang khususnya di di jawa
selama berabad-abadm,aulana malik ibrahim dan spiritual father walisonggo,dalam
masyarakat santri jawa biasanya di sebagai gurunya tradisi tradisi pesantren di
jawa. Oral histry yang bekembang memberi indikasi bahwa pondok-pondok
tua dan besar di luar jawa juga memperoleh inspirasi dari ajaran walisonggo. Figur
maulana malik ibrahim memang sangat populer di luar jawa misalnya pesantren
nahdlatul wathan yang didirikan pada 1934 di pancor, lombok timur,NTB dan
dewasa ini santrinya tidak kurang dari sepuluh ribu dengan cabangnya di
jakarta, ternyata juga terinspirasi dari ajaran da’wah islamiyyah maulana malik
ibrahim.tokoh ini akrab juga di kalangan pemimpin nahdlatul wathan dan juaga
para santridan alum nisa’at ini.[7]
Persamaan pesantren dengan mandala diantaranya:
1.
Sama-sama
memiliki lokasi jauh dari keramaian di pelosok yang kosong dan berada pada
tanah perdikan atau desa yang telah memperoleh hak istimewa dari penguasa. Banyak pertapaan atau mandala di
bagian timur jawa di masa Hindu yang dihuni para resi yang menjalankan latihan rohani sambil bertani.
Persamaan itu ia contohkan sebagaimana sunan kalijaga yang
sering bersemedi dan melakukan tirakat di pertapaan mantingan yang sepi, yang
hal itu juga dilakukan oleh para resi dalam tradisi pra-Islam.
2.
Lembaga pendidikan keagamaan Hindu Buddha mandala
dan lembaga pendidikan keagamaan Islam pesantren sama-sama memiliki tradisi ikatan
guru murid. Guru adalah bapak bagi murid dan murid berbapak kepada gurunya. Ikatran guru
murid ini merupakan ciri yang umum dalam kehidupan di mandala, yaitu murid yang
jauh dari orang tuanya diserahkan pendidikannya kepada guru sebagai pengganti orang
tua di lembaga pendidikan pra Islam. Hubungan guru
murid juga menjadi ciri dalam pendidikan Islam,
terutama karena perkembangan lembaga tarekat-tarekat yang berada di pesantren.
3.
Tradisi menjalin komunikasi antar dharma, yang
juga dilakukan anatara pesantren dengan perjalanan rohani atau lelana.
Mengambil contoh perjalanh ayam wuruk yang
diiringi oleh rombongan keraton untuk mengunjungi satu pertapaan kepertapaan yang lain.
Tapi ini berbeda dengan pengembangan rohani dalam tradisi pesantren dengan tradisi agama
Hindu Budha. Pengembaraan rohani tersebut sangat berkaitan dengan perjalanan ilmiah
yang ingin dicapai dalam tradisi pesantren, yaitu untuk menambah ilmu.
Perjalanan ilmiah atau yang sebutrihlahilmiah memunculkan santri [berartisiswa atau murid sebuah pesantren yang ingin
terus menerus ingin menambah ilmunya.
4.
Metode pengajarannya yang disebut halaqah [lingkaran].
Dalam halaqoh kiai biasanya duduk dekat tiang, sedangkan para murid duduk di
depannya membentuk lingkaran. Dalam halaqoh biasanya murid yang
lebih tinggi pengetahuannya akan duduk pada posisi yang
lebih dekat dengan kiai dari pada murid yang lainnya.[8]
IV.
KESIMPULAN
Pada pendidikan masa hindu budha di kenal dengan
istilah karsyan, pendidikan masa hindu budha diawali dari munculnya
kerajaan beberapa kerajaan di abad ke-5 M,Brahmana yang menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran. Perlu diketahui system kasta tidaklah diterapkan di Indonesia seperti yang terjadi di India, Kastaan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala.
Pendidikan Islam di Indonesia pada masa awalnya bersifat
informal, yakni melalui interaksi inter-personal yang berlangsung dalam berbagai kesempatan seperti aktivitas perdagangan,
karena lalulintas perdagangan laut internasional yang
melewati wilayah nusantara sudah ramai. Dakwah Bil Hal
atau keteladanan pada konteks ini mempunyai pengaruh besar dalam menarik perhatian dan minat seseorang untuk mengkaji atau memeluk ajaran
Islam. Selanjutnya setelah agama ini berkembang di tiap-tiap desa
yang penduduknya telah menjadi muslim umumnya didirikan langgar atau masjid.
Pada masa penjajahan belanda pendidikan yang di berikan oleh belanda
masih berbau komersial, berbeda jauh dengan yang ada di belanda yang di kelola
secara bebas oleh organisasi-organisai keagamaan, sedangkan pemerintah kolonial
belanda mempunyai ambisi dan strategi sendiri ketika
menerapkan pola pendidikan modern. Pada awalnya, pemerintah kolonial belanda
hanya memberikan model pendidikan pada anak bangsa yang berupa sekolah ongko
loro dan ongko siji. Sekolah ini bertujuan agar anak bangsa mendapatkan
pendidikan satu tahun dan tiga tahun saja, di mana materi yang diberikan berupa
ketrampilan berhitung, membaca, dan menulis sederhana. Ketrampilan ini jelas
dibutuhkan untuk membantu tugas-tugas administrasi pemerintah kolonial belanda
sendiri, yamg kemudian terjadi perubah setelah adanya politik etis, pendidikan
yang di terapkan menjadi 5-6th, bisa lanjut sampai tingkat tertinggi
Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan keagamaan di jawa,
tempat anak-anak muda belajar dan memperoleh pengetahuan keagamaan yang
tingkatnya lebih tinggi. Alasan pokok munculnya pesantren ini adalah untuk
mentrasmisikan islam tradisional, karena disitulah para anak-anak muda akan
mengkaji lebih dalam kitab-kitab klasik berbahasa arab yang ditulis
berabad-abad lalu. Di jawa kitab-kitab ini dikenalsebagai kitab kuning, sistem
pendidikan ini yang memperkenalakanya dadalah maulana malik ibrahim.
V.
PENUTUP
Demikin makalah yang saya susun, semoga dapat
bermanfaat dan menambah ilmu bagi kita semua. Kami menyadari dalam pembuatan
makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat
konstruktif sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya.
VI.
DAFTAR
PUSTAKA
Waro
muhammad, “sejarah pendidikan di jawa”, di akses dari : http:// Sejarah
Pendidikan di Jawa _ Waro Muhammad.htm
Anasom
dkk, “merumuskan kembali interelaasi islam-jawa”, yogyakarta, gama media, 2004
Belajar
harian, “konsep pendidikan pada masa penjajahan belanda”, di akses dari
:http//belajar harian Konsep pendidikan
pada masa penjajahan Belanda.htm#,
Darori
amin dkk,” islam dan kebudayaan jawa”, yogyakarta, gama media, 2000
[1]Waro
muhammad, “sejarah pendidikan di jawa”, di akses dari : http:// Sejarah
Pendidikan di Jawa _ Waro Muhammad.htm, pada tanggal 26 november 2013, pukul
18.06
[2]Anasom
dkk, “merumuskan kembali interelaasi islam-jawa”, yogyakarta, gama media, 2004,
hal 96
[3]Waro
muhammad, “sejarah pendidikan di jawa”, di akses dari : http:// Sejarah
Pendidikan di Jawa _ Waro Muhammad.htm, pada tanggal 26 november 2013, pukul
18.06
[4]Belajar
harian, “konsep pendidikan pada masa penjajahan belanda”, di akses dari :http//belajar
harian Konsep pendidikan pada masa
penjajahan Belanda.htm#, pada tanggal 26 november 2013, pukul 18.11
[5]Waro
muhammad, “sejarah pendidikan di jawa”, di akses dari : http:// Sejarah
Pendidikan di Jawa _ Waro Muhammad.htm, pada tanggal 26 november 2013, pukul
18.06
[6]Anasom
dkk, “merumuskan kembali interelaasi islam-jawa”, yogyakarta, gama media, 2004,
hal 96
[7]Darori
amin dkk,” islam dan kebudayaan jawa”, yogyakarta, gama media, 2000, hal
223-224
[8]Anasom
dkk, “merumuskan kembali interelaasi islam-jawa”, yogyakarta, gama media, 2004, hal 98-104

Comments
Post a Comment